Perbedaan Psikolog dan Psikiater Ini Lho!

Perbedaan psikolog dan psikiater, apa saja? Kedua profesi ini terdengar serupa, tapi ternyata tidak sama. Psikiatri dan psikologi memiliki kesamaan yaitu berasal dari cabang ilmu yang mempelajari masalah kejiwaan atau psikologis. Meskipun ada kesamaan, tetapi masing-masing profesi ini memiliki batasan penganan tertentu terhadap pasien. Latar belakang pendidikannya pun berbeda. Jika psikiatri adalah seorang dokter dan mempelajari ilmu kedokteran yang berfokus pada kesehatan jiwa. Sedangkan psikolog bukan dokter, mempelajari ilmu non-kedokteran yang berfokus pada perilaku dan perasaan seseorang.

Perbedaan Psikolog dan Psikiater

Psikolog adalah seorang ahli yang fokus mengamati pikiran dan perilaku seseorang.

Jika Anda memiliki masalah kesehatan mental, mungkin pernah merasa bingung. Pertanyaan ini kerap terlintas di benak Anda ke manakah harus pergi? Apakah berkunjung ke psikiater atau psikolog? Jika Anda masih bingung dan merasa tidak yakin. Inilah yang perlu menjadi perhatian untuk memutuskan mana pilihan tepat. Ada beberapa kesamaan dan perbedaan psikolog dan psikiater, lebih lengkapnya yuk simak ulasannya!

 

Apa Itu Psikolog?

Psikolog adalah seorang ahli yang fokus mengamati pikiran dan perilaku seseorang. Setelah lulus dan mendapatkan gelar Sarjana Psikologi (S-1 S.psi). Mereka akan mendalami berbagai bidang ilmu psikologi yang berbeda. Bidang psikologi yang dipelajari tentu lebih dalam lagi, seperti psikologi klinis anak dan dewasa, psikologi pendidikan, termasuk psikologi industri dan organisasi. Setelah menempuh pendidikan lanjutan akan mendapat gelar sebagai Magister Psikologi (M.psi). Psikolog mempelajari tentang pikiran dan perilaku manusia, mereka bukan dokter. Seorang psikolog dilatih untuk memberikan tes psikologis (seperti tes IQ atau tes keperibadian). Seorang psikolog dapat bekerja di salah satu pengaturan yang sama dengan psikiater, termasuk:

  • Praktik pribadi
  • Rumah sakit
  • Rumah sakit jiwa
  • Pusat medis universitas
  • Rumah jompo
  • Penjara
  • Program rehabilitasi
  • Program rumah sakit

 

Mereka biasanya merawat orang dengan terapi bicara. Psikolog akan mengajak Anda berbicara, membicarakan masalah apa pun. Psikolog juga membantu seseorang agar lebih memahami gejala kejiwaan yang dialami dan cara menanganinya. Informasi yang lengkap dan jelas dapat memudahkan psikolog untuk membantu menangani masalah Anda. Jenis terapi bicara yang sering digunakan psikolog yakni terapi perilaku kongnitif. Ini adalah pendekatan yang berfokus untuk mengatasi pola pikir negatif. Terapi bicara bisa bermacam-macam bentuknya, termasuk:

  • Terapi dengan pasien sendiri
  • Terapi keluarga
  • Terapi Kelompok

 

Psikolog dapat menilai fungsi kognitif dan kemampuan akademis, selain kesehatan mentalnya. Psikolog melakukan jenis terapi bermain yang biasanya tidak dilakukan oleh psikiater. Jenis terapi ini melibatkan membiarkan anak bermain dengan bebas di ruang bermain yang aman dengan sedikit aturan atau batasan. Ketika melihat anak-anak bermain. Psikolog akan mendapat gambaran tentang prilaku mengganggu dan apa yang membuat tidak nyaman pada seorang anak. Psikolog akan melacak bagaimana pola tidur, pola, makan, dan pikiran negatif yang dapat memicu atau berkontribusi dalam masalah tersebut.

 

 

Perbedaan Psikolog dan Psikiater Ini Lho!

Seorang psikiater biasanya membuat diagnosa eksklusi dari kondisi pasien.

Apa Itu Psikiater?

Psikiater adalah dokter yang lulus dari fakultas kedokteran. Seorang psikiater menjalani masa magang kedokteran selama satu tahun dan masa residensi selama 3 tahun dalam pengkajian dan pengobatan gangguan kesehatan jiwa. Psikiater dapat meresepkan obat karena pelatihan medis mereka. Psikiater memiliki pemahaman kuat dalam bidang biologi dan neurokimia. Seorang psikiater dapat bekerja di tempat berikut:

  • Praktik pribadi
  • Rumah sakit
  • Rumah sakit jiwa
  • Pusat medis universitas
  • Rumah jompo
  • Penjara
  • Program rehabilitasi
  • Program rumah sakit

 

Seorang psikiater biasanya membuat diagnosa eksklusi dari kondisi pasien. Sebagai contoh, sebelum mendiagnosa seseorang depresi, psikiater tentu memastikan pasien tidak memiliki masalah tiroid atau kekurangan vitamin. Setelah mendiagnosis kesehatan mental, psikiater juga sering kali memberikan resep obat. Psikiater juga merawat orang dengan kondisi kesehatan mental yang membutuhkan pengobatan seperti:

  • Gangguan kecemasan
  • Gangguan attention deficit hyperactivity (ADHD)
  • Gangguan bipolar
  • Depresi mayor
  • Gangguan stres pasca-trauma (PTSD)
  • Skizofrenia

 

Psikiater akan membuat diagnosis, setelah itu mungkin akan merujuk Anda ke psikoterapis untuk terapi atau meresepkan obat. Beberapa obat yang diresepkan oleh psikiater meliputi:

  • Antidepresan
  • Obat antipsikotik
  • Penstabil suasana hati
  • Stimulan
  • Obat penenang

 

Setelah meresepkan obat kepada seseorang, psikiater akan memantau mereka dengan cermat untuk melihat tanda-tanda perbaikan dan efek samping. Dengan demikian, psikiater bisa mengubah dosis atau jenis obat berdasarkan informasi tersebut. Psikiater juga dapat meresepkan jenis perawatan lain, termasuk:

 

Terapi Elektrokonvulsif

Pada kasus depresi berat, perawatan ini biasanya disediakan. Terapi elektrokonvulsif melibatkan pemberian arus listrik ke otak.

 

Terapi Cahaya

Ini melibatkan penggunaan cahaya buatan untuk mengatasi depresi musiman, terutama di tempat-tempat yang tidak mendapatkan banyak sinar matahari. Psikiater akan memeriksa kesehatan mental anak secara komprehensif. Ini dilakukan guna mengevaluasi banyak komponen yang mendasari kesehatan mental anak, seperti emosional, kognitif, keluarga, pendidikan, dan genetik. Rencana perawatan psikiater untuk anak-anak akan melibatkan beberapa orang, seperti individu, kelompok, atau terapi bicara keluarga, konsultasi dengan dokter atau profesional lain di sekolah, lembaga sosial, atau organisasi komunitas.

 

Siapa yang Harus Anda Kunjungi?

Sebelumnya kita membahasa perbedaan psikolog dan psikiater, sampai di sini seharusnya Anda sudah bisa memutuskan  mana yang akan Anda kunjungi.  Terkadang  pertanyaan ini sering diungkapkan, psikiater atau psikolog ya? Sebenarnya Anda bisa melihat terlebih dahulu jenis masalahnya seperti apa. Jenis masalah kesehatan mental yang tidak terlalu parah, seringkali merupakan masalah preferensi pribadi. Biasanya mereka lebih cenderung menemui psikolog terlebih dahulu. Dengan demiklian sebaiknya Anda mengenali jenis masalah yang Anda alami dahulu. Seseorang yang mengalami depresi klinis dapat memperoleh manfaat dari pengobatan. Lain halnya, seseorang yang menghadapi fobia mungkin terapi dengan psikolog menjadi pilihan efektif. Jika psikolog merawat seseorang yang memiliki gejala parah seperti ingin bunuh diri, biasanya psikolog akan menyarankan konsultasi dengan psikiater untuk membantu mengklarifikasi diagnosis dan memberikan pengobatan.

 

Keuntungan mendatangi seorang psikiater adalah mereka memiliki pengetahuan dan pelatihan untuk mengevaluasi masalah medis yang mendasari. Misalnya, mereka mengetahui efek obat yang dapat menyebabkan gejala emosi atau perilaku. Jenis kesehatan mental yang serius, seperti depresi berat, gangguan bipolar atau skizofenia yang mana gejala fisik mungkin parah dan sulit untuk merawat diri sendiri. Pskiater umumnya memiliki pilihan dan pengobatan yang lebih formal.

 

Jadi, sampai di sini sudah tahu kan perbedaan psikolog dan psikiater? Psikolog dan psikiater sekilas terdengar sama, tapi ternyata tidak serupa. Baik psikiater atau pun psikolog sama-sama dapat membantu menangani masalah kesehatan mental. Keduanya membujuk Anda untuk mengatasi masalah sehari-hari. Mereka hadir dengan tujuan memberi sarana untuk mengelola masalah yang Anda hadapi. Itulah kesamaan yang mereka miliki. Psikiater dan psikolog memiliki latar belakang pendidikan, pelatihan, dan peran yang berbeda saat pengobatannya. Dengan mengetahui lebih lanjut perbedaan psikolog dan psikiater semoga Anda dapat menemukan pilihan yang tepat. Jika diperlukan, kami siap membantu dengan layanan Mind and Behaviour Clinic di Ciputra Medical Center. Yuk, daftar sekarang!

 

Telah direview oleh dr. Sylvani Gani

Source