Depresi Pada Anak: Kenali Ciri-Cirinya!

Depresi pada anak sering kali tidak disadari orang tua. Kenali gejala depresi pada anak serta pencegahan dan pengobatan yang diperlukan lewat ulasan berikut! Umumnya depresi terjadi pada orang dewasa. Faktornya bisa bermacam-macam mulai dari tekanan pekerjaan, kondisi keuangan, penyakit yang tak kunjung sembuh dan masih banyak lagi. Siapa sangka depresi juga terjadi pada anak-anak.

Depresi Pada Anak

Anak yang memiliki riwayat keluarga dengan depresi akan lebih berisiko mengalami depresi.

 

Jika seorang anak tampak sedih dan kesedihan itu terus berlanjut sehingga mengganggu aktivitas sosial, tugas sekolah, dan kehidupan keluarga, itu menunjukkan bahwa anak tersebut menderita depresi. Menurut WebMD, depresi bisa terjadi pada anak-anak dan remaja. Anak laki-laki lebih rentan mengalami depresi pada usia di bawah 10 tahun. Namun pada usia 16 tahun, anak perempuan memiliki insiden depresi yang lebih besar.

 

Tanda Gejala Depresi Pada Anak

Gejala depresi pada anak bermacam-macam sehingga tiap anak memiliki gejala yang berbeda. Biasanya gejala depresi tidak disadari karena dianggap sebagai perubahan emosional dan psikologis yang normal. Jadi, sering kali tidak terdiagnosis dan tidak diobati. Gejala utama depresi berkisar pada kesedihan, rasa putus asa, dan perubahan suasana hati. Biasanya anak menunjukkan kesedihan atau suasana hati yang buruk sama halnya seperti orang dewasa yang mengalami depresi.

Gejala-gejala yang terjadi saat anak depresi antara lain:

  • Mudah marah
  • Perasaan sedih dan putus asa
  • Menarik diri
  • Kehilangan minat dan ketertarikan pada aktivitas yang disukai
  • Nafsu makan bisa meningkat atau justru menurun
  • Perubahan pola tidur (sulit tidur / tidur berlebihan)
  • Sulit berkonsentrasi atau pikiran mudah terganggu
  • Mudah lelah / kurang energi
  • Perasaan mudah bersalah dan tidak berharga
  • Keluhan fisik, seperti sakit kepala atau sakit perut

 

Gejala-gejala di atas belum tentu sama dialami anak yang satu dengan lainnya. Faktanya, sebagian besar anak mengalami gejala yang berbeda, pada waktu yang berbeda, dan kondisi yang berbeda pula. Meskipun beberapa anak dapat terus berfungsi dengan baik dalam lingkungan yang terstruktur. Biasanya anak dengan depresi berat akan banyak mengalami perubahan nyata, seperti kehilangan minat di sekolah, prestasi akademis menurun hingga perubahan tampilan.

 

Depresi pada Anak: Tanda Peringatan

Orang tua harus sangat waspada terhadap tanda-tanda yang mungkin menunjukkan bahwa anak mereka berisiko bunuh diri. Tanda peringatan perilaku bunuh diri pada anak-anak meliputi:

  • Terdapat banyak gejala depresi (perubahan makan, tidur, aktivitas)
  • Isolasi sosial, termasuk isolasi dari keluarga
  • Bicara tentang bunuh diri, keputusasaan, atau ketidakberdayaan
  • Meningkatnya tindakan dari perilaku yang tidak diinginkan (seksual / perilaku)
  • Peningkatan perilaku pengambilan risiko
  • Sering terjadi kecelakaan
  • Penyalahgunaan zat
  • Fokus pada hal-hal yang tidak wajar dan negatif
  • Bicara tentang kematian
  • Lebih sering menangis atau berkurangnya ekspresi emosional
  • Kecenderungan memberikan barang kepada orang lain

 

Penyebab Depresi Pada Anak

Depresi pada anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya, seperti kesehatan fisik, masalah di kehidupan, riwayat keluarga, lingkungan, dan faktor genetik. Depresi bukanlah gangguan yang bisa hilang secara spontan tanpa terapi yang tepat.

Depresi Pada Anak: Kenali Ciri-Cirinya!

Depresi pada anak sering kali tidak disadari karena dianggap sebagai perubahan emosional dan psikologis yang normal. 

 

 

Bisakah Depresi Pada Anak Dicegah?

Anak yang memiliki riwayat keluarga dengan depresi akan lebih berisiko mengalami depresi. Misalnya pada anak dengan orang tua yang menderita depresi, akan cenderung mengalami depresi pada usia yang lebih muda. Selain itu, anak-anak atau remaja yang menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan berisiko lebih besar mengalami depresi.

 

Bagaimana Depresi Didiagnosa Pada Anak?

Jika Anda menemui gejala depresi pada anak dan berlangsung setidaknya selama dua minggu, ada baiknya Anda menjadwalkan kunjungan ke dokter untuk memastikan diagnosis dan menerima terapi yang tepat. Anda bisa melakukan konsultasi lebih lanjut dengan psikiater yang khususnya menangani anak-anak.

Biasanya evaluasi kesehatan mental mencakup wawancara dengan orang tua/pengasuh, anak itu sendiri dan tes psikologis tambahan yang diperlukan. Selain itu, informasi dari orang sekitar seperti guru dan teman dapat berguna untuk menunjukkan gejala ini terjadi secara konsisten disertai perubahan perilaku pada anak.

Hingga saat ini belum ada pemeriksaan khusus baik secara medis atau psikologis untuk diagnosis depresi. Namun, penggunaan kuesioner yang diisi oleh anak dan orang tua disertai dengan hasil wawancara dapat berguna untuk membantu mendiagnosis depresi pada anak. Kuesioner dan sesi terapi tersebut dapat mengungkap masalah lain yang berkontribusi pada depresi, seperti ADHD, gangguan perilaku, dan OCD.

 

Cara Mengatasi Depresi Pada Anak

Anda harus segera menjadwalkan kunjungan ke dokter bila anak Anda mengalami anda-tanda depresi selama minimal dua minggu. Kunjungan ke dokter akan membantu pengobatan yang sesuai untuk depresi pada Anak. Pilihan pengobatan untuk anak-anak dengan depresi saa seperti pada orang dewasa, yakni psikoterapi (konseling) dan pengobatan. Dokter Anda akan menyarankan psikoterapi terlebih dahulu. Jika tidak ada perbaikan secara signifikan baru mempertimbangkan obat antidepresan sebagai terapi tambahan. Kombinasi psikoterapi dan pengobatan biasanya paling efektif dalam mengobati depresi.

 

Pengobatan Anak dengan Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar lebih sering terjadi pada remaja dibanding anak-anak. Gangguan bipolar pada anak bisa terjadi lebih parah daripada remaja. Ini semua bisa terjadi karena adanya gangguan lain yang menyertai, seperti Attention Defisit Hyperactivity Disorder (ADHD), Obsessive Compulsive Disorder (OCD), atau Conduct Disorder (CD).

Anak-anak dengan gangguan bipolar dapat diterapi dengan psikoterapi dan kombinasi obat-obatan, seperti antidepresan dan mood stabilizer. Penggunaan antidepresan perlu dilakukan secara hati-hati karena dapat memicu perilaku hiperaktif pada anak-anak dengan gangguan bipolar.

FDA memperingatkan bahwa obat antidepresan dapat meningkatkan risiko bunuh diri pada anak-anak dan remaja dengan depresi serta gangguan kejiwaan lainnya. Jika Anda khawatir dan memiliki pertanyaan terkait hal ini diskusikan dengan pelayanan kesehatan terdekat. Pastikan pemantauan didampingi oleh dokter dan terapis yang berpengalaman.

 

Pemantauan Jangka Panjang

Seperti pada orang dewasa, depresi pada Anak juga dapat terjadi lagi di kemudian hari. Depresi sering kali terjadi bersamaan dengan penyakit lainnya. Oleh karena itu, penting melakukan diganosis, pengobatan dini, dan pemantauan ketat di kemudian hari. Anda mungkin menunda mencari bantuan profesional tenaga kesehatan karena stigma sosial terkait gangguan mental. Padahal penting bagi orang tua untuk memahami depresi dan menyadari pentingnya pengobatan agar anak dapat tumbuh sehat baik secara fisik maupun psikologisnya. Selain itu, penting juga untuk mengetahui dampak depresi di masa remaja dan dewasa Anak Anda.

Pada dasarnya, jika menemukan gejala depresi pada anak segera konsultasikan dengan dokter dan terapis berpengalaman. Gangguan psikologis muncul dengan keluhan kesulitan dalam pengelolaan emosi, pola pikir yang negatif, masalah sosial/keluarga. Bahkan bisa menimbulkan gangguan fisik lain, seperti sesak napas, naiknya asam lambung, sakit kepala, dan lainnya. Oleh karena itu perlu penanganan yang tepat. Ciputra Medical Center memiliki layanan Mind & Behaviour Clinic yang bisa membantu individu membentuk pola pikir sehat dan kehidupan lebih bahagia. Anda dapat melakukan terapi sesuai kebutuhan dengan dibantu oleh psikiater dan psikolog yang kompeten sesuai bidangnya.

 

Telah direview oleh dr. Sylvani Gani

Source