Ciputra Medical Center

(021) 2988 8137 / +62 780 3321 2250
Operasional: Senin–Sabtu, 08:30–20:30 WIB | KLIK PETA

  • Home
  • About Us
  • Dokter
    • Akupunktur Medik
    • Poliklinik Jantung
    • Nice Dental Care Clinic
    • Mind and Behaviour Clinic
    • Poliklinik Okupasi
    • Gizi Klinik
    • Dokter Umum
    • THT
  • Services
    • Akupunktur Medik
    • Dokter Umum / Spesialis
    • Jantung
    • Klinik Kecantikan T Wave
    • Klinik Gizi
    • Medical Check Up (Health Screening))
    • Mind & Behaviour Clinic
      • Brain Mapping
      • Neurofeedback Therapy
    • NDC Aesthetic Dental Clinic
    • Occupational Health Clinic
    • Sport Injury Clinic
    • Terapi Wicara
  • Medical Support
    • Laboratory
    • Audiometri
    • USG
    • Treadmill
    • Spirometri
    • EKG
    • Radiology
  • Artikel
BUAT JANJI
  • Home
  • News
  • kesehatan
  • Vaginitis: Penyebab, Faktor Risko dan Cara Mencegahnya
Senin, 21 September 2026 / Published in kesehatan

Vaginitis: Penyebab, Faktor Risko dan Cara Mencegahnya

Vaginitis adalah peradangan atau iritasi pada vagina karena infeksi bakteri, jamur, parasit, perubahan hormon, maupun paparan bahan yang mengiritasi area intim.  kondisi yang dapat Anda atasi sesuai penyebabnya, mulai dari penggunaan antibiotik, obat antijamur, terapi hormon, hingga menghindari faktor pemicu iritasi. Penanganan yang tepat serta menjaga kebersihan area kewanitaan dapat membantu mempercepat pemulihan dan mencegah kekambuhan.

Vaginitis adalah
Ketidakseimbangan bakteri di vagina menjadi salah satu penyebab vaginitis.

Vaginitis merupakan salah satu masalah kesehatan pada organ intim wanita yang cukup sering terjadi. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan, seperti keputihan yang tidak normal, keputihan gatal, rasa terbakar, hingga nyeri saat buang air kecil atau berhubungan seksual.

Tanda-tanda vaginitis dapat berbeda pada setiap wanita tergantung penyebab yang mendasarinya. Untuk membantu mencegah kondisi ini, penting menjaga kebersihan area kewanitaan, menghindari produk yang dapat menyebabkan iritasi, serta menerapkan hubungan seksual yang aman.

Daftar Isi

Toggle
  • Apa itu Vaginitis?
  • Jenis Vaginitis
    • 1. Vaginosis Bakterialis 
    • 2. Infeksi Jamur 
    • 3. Trikomoniasis
    • 4. Vaginitis Noninfeksi
    • 5. Vaginitis Atrofik
  • Gejala Vaginitis
  • Penyebab Vaginitis
  • Faktor Risiko Vaginitis
  • Komplikasi Vaginitis
  • Diagnosa Vaginitis
  • Cara Mengobati Vaginitis
  • Cara Mencegah Vaginitis
  • Kapan Harus ke Dokter

Apa itu Vaginitis?

Vaginitis adalah istilah umum untuk kondisi yang menyebabkam peradangan atau iritasi pada vagina. Kondisi ini dapat menimbulkan keluhan seperti gatal, rasa perih atau terbakar, nyeri, hingga perubahan pada cairan atau keputihan.

Penyebab vaginitis beragam, mulai dari infeksi bakteri, jamur, dan parasit, hingga iritasi akibat sabun, pembersih kewanitaan, atau produk kimia tertentu. Pada sebagian wanita, vaginitis juga dapat berkaitan dengan infeksi menular seksual atau berkurangnya kadar hormon estrogen yang menyebabkan vagina menjadi lebih kering. Vaginitis termasuk masalah kesehatan yang cukup sering terjadi dan dapat wanita pada berbagai usia alami.

Baca Juga: Ciri-Ciri Keputihan Tidak Normal Saat Hamil yang Berbahaya

Jenis Vaginitis

Vaginitis dapat Anda bedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan penyebab yang mendasarinya, mulai dari infeksi hingga hormon. Mengenali jenis-jenis vaginitis penting Anda lakukan agar penanganan yang dokter berikan sesuai dengan penyebabnya.

1. Vaginosis Bakterialis 

Vaginosis bakterialis adalah jenis vaginitis yang terjadi akibat ketidakseimbangan jumlah bakteri di dalam vagina. Kondisi ini menyebabkan bakteri tertentu berkembang lebih banyak dari bakteri baik yang berperan menjaga kesehatan vagina.

Gejala yang paling sering muncul adalah keputihan dengan bau amis yang cukup kuat, terutama setelah berhubungan seksual. Selain itu, beberapa wanita juga dapat mengalami rasa tidak nyaman atau iritasi ringan pada area vagina.

2. Infeksi Jamur 

Infeksi jamur pada vagina umumnya karena pertumbuhan jamur Candida yang berlebihan. Padahal, jamur ini sebenarnya dapat hidup secara alami di vagina dalam jumlah yang seimbang.

Ketika keseimbangan mikroorganisme terganggu, jumlah jamur dapat meningkat dan memicu peradangan. Kondisi ini biasanya menimbulkan rasa gatal, panas, kemerahan, serta keputihan yang lebih kental dari biasanya.

3. Trikomoniasis

Trikomoniasis adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit mikroskopis bernama Trichomonas vaginalis. Penyakit ini termasuk salah satu infeksi menular seksual yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual.

Wanita yang mengalami trikomoniasis dapat merasakan gatal pada vagina, rasa tidak nyaman saat buang air kecil, serta keputihan yang berbau tidak sedap. Pada beberapa kasus, keputihan juga dapat berubah warna menjadi kekuningan atau kehijauan.

4. Vaginitis Noninfeksi

Vaginitis noninfeksi terjadi bukan karena infeksi, melainkan akibat iritasi atau reaksi alergi terhadap zat tertentu. Pemicu yang umum meliputi sabun berpewangi, pembersih kewanitaan, pelumas, spermisida, hingga deterjen pakaian.

Paparan bahan-bahan tersebut dapat menyebabkan jaringan di sekitar vagina menjadi sensitif dan meradang. Gejalanya dapat berupa gatal, kemerahan, rasa terbakar, atau ketidaknyamanan pada area intim.

5. Vaginitis Atrofik

Vaginitis atrofik adalah peradangan vagina yang terjadi akibat penurunan kadar hormon estrogen dalam tubuh. Kondisi ini menyebabkan dinding vagina menjadi lebih tipis, kering, dan kurang elastis.

Vaginitis atrofik paling sering dialami oleh wanita yang memasuki masa perimenopause atau menopause. Namun, gejala serupa juga dapat muncul setelah melahirkan atau selama masa menyusui karena perubahan kadar hormon yang terjadi secara alami.

Gejala Vaginitis

Gejala vaginitis dapat berbeda-beda pada setiap wanita, tergantung pada penyebab dan jenis peradangan yang terjadi. Bahkan, pada beberapa kasus, vaginitis dapat berlangsung tanpa menimbulkan keluhan yang jelas.

Namun, ada beberapa tanda yang cukup sering muncul dan dapat menjadi petunjuk adanya gangguan pada kesehatan vagina. Gejala tersebut umumnya berkaitan dengan perubahan pada cairan vagina, rasa tidak nyaman, hingga nyeri saat beraktivitas tertentu.

Perubahan keputihan juga menjadi salah satu gejala yang paling mudah dikenali. Keputihan yang berbau menyengat, bertekstur menggumpal, berbusa, atau berubah warna menjadi kuning maupun hijau dapat mengindikasikan adanya infeksi dan perlu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Gejala vaginitis yang umum terjadi meliputi:

  • Perubahan warna, jumlah, tekstur, atau bau keputihan.
  • Gatal pada vagina atau area sekitar organ intim.
  • Sensasi terbakar, perih, atau iritasi pada vagina.
  • Pembengkakan pada vulva atau area luar vagina.
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman saat buang air kecil (disuria).
  • Nyeri saat berhubungan seksual.
  • Rasa sakit ketika menggunakan tampon.
  • Muncul bercak darah atau perdarahan ringan di luar jadwal menstruasi.
  • Keputihan berbau amis, menyengat, atau tidak biasa.
  • Keputihan yang menggumpal, berbusa, atau lebih kental dari biasanya.
  • Keputihan berwarna kuning, hijau, atau berubah dari warna normalnya.
  • Peningkatan jumlah cairan vagina yang berlangsung selama beberapa hari atau lebih.

Penyebab Vaginitis

Vaginitis dapat terjadi karena berbagai faktor, mulai dari infeksi mikroorganisme hingga iritasi akibat produk tertentu yang digunakan di area kewanitaan. Penyebabnya perlu diketahui karena setiap jenis vaginitis memerlukan penanganan yang berbeda sesuai dengan faktor pemicunya.

Beberapa penyebab vaginitis yang paling umum meliputi:

  • Ketidakseimbangan bakteri di vagina (vaginosis bakterialis). Kondisi ini terjadi ketika jumlah bakteri alami di vagina tidak seimbang sehingga bakteri tertentu berkembang secara berlebihan.
  • Pertumbuhan jamur Candida yang berlebihan. Jamur Candida sebenarnya hidup secara alami di vagina dalam jumlah kecil. Namun, ketika pertumbuhannya tidak terkendali, kondisi ini dapat menyebabkan infeksi jamur yang memicu gatal, iritasi, dan keputihan abnormal.
  • Infeksi parasit Trichomonas vaginalis. Parasit ini dapat menyebabkan trikomoniasis, yaitu salah satu jenis infeksi menular seksual yang menyerang area vagina. Penularannya umumnya terjadi melalui hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi.
  • Penggunaan produk yang mengiritasi area kewanitaan. Sabun berpewangi, pembersih kewanitaan, semprotan vagina, deterjen beraroma, atau produk spermisida dapat memicu iritasi dan reaksi alergi. Kondisi tersebut dapat menyebabkan jaringan vagina dan vulva mengalami peradangan.
  • Benda asing yang tertinggal di dalam vagina. Selain menyebabkan peradangan, kondisi ini juga dapat menimbulkan bau tidak sedap dan keputihan yang tidak normal.
  • Penurunan kadar hormon estrogen. Kadar estrogen yang menurun, terutama saat menopause atau setelah pengangkatan ovarium, dapat membuat dinding vagina menjadi lebih tipis dan kering. Perubahan ini dapat memicu iritasi, rasa terbakar, dan gejala vaginitis atrofik.
  • Aktivitas seksual yang meningkatkan risiko infeksi. Berganti pasangan seksual atau melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan dapat meningkatkan risiko terkena beberapa jenis vaginitis. Hal ini terutama berkaitan dengan infeksi yang ditularkan melalui kontak seksual.

Faktor Risiko Vaginitis

Setiap wanita dapat mengalami vaginitis, tetapi ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya peradangan pada vagina. Faktor-faktor ini dapat memengaruhi keseimbangan alami mikroorganisme di vagina atau memudahkan terjadinya infeksi dan iritasi. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko vaginitis antara lain:

  • Penggunaan antibiotik dalam waktu dekat atau penggunaan kortikosteroid jangka panjang.
  • Perubahan kadar hormon, seperti saat kehamilan, menyusui, atau menopause.
  • Melakukan hubungan seksual tanpa pengaman.
  • Memiliki lebih dari satu pasangan seksual.
  • Mengalami infeksi menular seksual (IMS).
  • Sering mengenakan pakaian yang ketat, lembap, atau mudah menahan keringat.
  • Kebiasaan melakukan vaginal douching atau membersihkan bagian dalam vagina dengan cairan tertentu.
  • Penggunaan sabun, semprotan, atau produk kewanitaan yang mengandung pewangi.
  • Penggunaan produk spermisida.
  • Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik.
  • Kondisi kesehatan yang melemahkan sistem kekebalan tubuh.
  • Konsumsi obat-obatan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh.

Baca Juga: Kenali Penyebab Keputihan saat Hamil Normal dan Abnormal

Komplikasi Vaginitis

Vaginitis yang tidak ditangani dengan tepat dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan lainnya, terutama yang berkaitan dengan organ reproduksi. Peradangan yang berlangsung terus-menerus dapat membuat jaringan vagina menjadi lebih sensitif dan rentan mengalami gangguan.

Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah meningkatnya risiko terkena infeksi menular seksual (IMS). Hal ini karena lapisan vagina yang mengalami iritasi atau peradangan lebih mudah terpapar dan terinfeksi oleh kuman penyebab penyakit saat terjadi kontak seksual.

Diagnosa Vaginitis

Untuk mendiagnosis vaginitis, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan, gejala yang dialami, serta faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi atau iritasi pada vagina. Setelah itu, dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan panggul untuk menilai kondisi area kewanitaan secara langsung.

Selama pemeriksaan, dokter dapat mengambil sampel cairan atau keputihan dari dalam vagina menggunakan alat khusus. Sampel tersebut kemudian diperiksa di laboratorium untuk mengetahui penyebab vaginitis, sementara pemeriksaan tingkat keasaman (pH) vagina juga dapat dilakukan guna membantu memastikan diagnosis dan menentukan jenis peradangan yang terjadi.

Cara Mengobati Vaginitis

Pengobatan vaginitis harus disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya agar gejala dapat mereda secara optimal. Oleh karena itu, diagnosis yang tepat sangat penting karena beberapa jenis vaginitis dapat menimbulkan gejala yang serupa meskipun penyebabnya berbeda. Berikut cara mengobatinya yang dapat Anda lakukan:

  • Vaginosis Bakterialis (Bacterial Vaginosis). Vaginosis bakterialis umumnya diobati dengan antibiotik untuk membantu mengembalikan keseimbangan bakteri di dalam vagina.
  • Infeksi Jamur. Infeksi jamur biasanya dapat Anda tangani dengan obat antijamur yang tersedia dalam bentuk krim, ovula, atau tablet.
  • Trikomoniasis. Trikomoniasis dapat Anda obati menggunakan obat antiparasit atau antibiotik yang berfungsi membasmi parasit penyebab infeksi.
  • Vaginitis Noninfeksi. Penanganan vaginitis noninfeksi dapat Anda lakukan dengan menghindari atau menghentikan penggunaan produk yang memicu iritasi maupun reaksi alergi.
  • Sindrom Genitourinari Menopause (Vaginitis Atrofik). Vaginitis atrofik akibat penurunan hormon estrogen dapat Anda tangani dengan terapi estrogen sesuai rekomendasi dokter.

Pada beberapa kasus ringan, terutama karena infeksi jamur tertentu, gejala dapat membaik tanpa pengobatan khusus. Namun, tidak semua jenis vaginitis dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tetap Anda perlukan evaluasi medis untuk memastikan penyebabnya.

Cara Mencegah Vaginitis

Meskipun tidak semua kasus vaginitis dapat Anda cegah, ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk membantu menjaga kesehatan vagina dan mengurangi risiko terjadinya infeksi maupun iritasi, antara lain:

  • Gunakan pakaian yang nyaman dan mudah menyerap keringat. Pilih pakaian dalam berbahan katun dan hindari penggunaan celana yang terlalu ketat dalam waktu lama.
  • Segera ganti pakaian yang basah atau berkeringat. Hindari terlalu lama mengenakan pakaian renang yang basah atau pakaian olahraga yang lembap.
  • Hindari penggunaan produk kewanitaan yang mengandung pewangi. Sabun, semprotan, atau produk pembersih beraroma kuat dapat mengganggu keseimbangan alami vagina.
  • Tidak melakukan vaginal douching. Membersihkan bagian dalam vagina sebaiknya tidak menggunakan cairan khusus karena dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik.
  • Bersihkan area intim dengan cara yang benar. Setelah buang air, biasakan membersihkan area genital dari arah depan ke belakang. Cara ini membantu mencegah perpindahan bakteri dari area anus ke vagina yang dapat memicu infeksi.
  • Jaga kebersihan benda yang bersentuhan dengan area intim. Pastikan alat bantu seksual, jari, atau benda lain yang akan menyentuh vagina dalam keadaan bersih. Langkah ini dapat membantu mengurangi risiko masuknya kuman penyebab infeksi.
  • Konsultasikan perubahan hormon dengan dokter. Wanita yang mendekati menopause atau mengalami penurunan kadar estrogen dapat berkonsultasi mengenai pilihan terapi yang sesuai. Penanganan yang tepat dapat membantu menjaga kelembapan dan kesehatan jaringan vagina.
  • Lakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin. Pemeriksaan ginekologi secara berkala membantu mendeteksi gangguan pada organ reproduksi sejak dini. Jika memiliki faktor risiko tertentu, pemeriksaan infeksi menular seksual juga dapat Anda lakuikan sesuai anjuran dokter.
  • Terapkan hubungan seksual yang aman. Menggunakan kondom dan menghindari berganti-ganti pasangan seksual dapat membantu menurunkan risiko infeksi menular seksual. Langkah ini juga berperan dalam mengurangi risiko beberapa jenis vaginitis yang berkaitan dengan infeksi.

Kapan Harus ke Dokter

Pemeriksaan ke dokter sebaiknya Anda lakukan jika muncul gejala pada area kewanitaan yang tidak kunjung membaik atau terasa semakin mengganggu aktivitas sehari-hari. Penanganan yang tepat dapat membantu mengetahui penyebab keluhan sekaligus mencegah terjadinya komplikasi.

Konsultasi medis juga penting apabila gejala muncul setelah berganti pasangan seksual, memiliki lebih dari satu pasangan, atau tetap berlanjut meskipun sudah mencoba pengobatan tertentu. Dengan pemeriksaan yang tepat, dokter dapat menentukan diagnosis dan memberikan terapi yang sesuai dengan penyebabnya. Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami:

  • Keputihan yang berbau tidak sedap atau memiliki aroma yang tidak biasa.
  • Keputihan dengan warna atau tekstur yang berbeda dari biasanya.
  • Gatal pada vagina atau area sekitar organ intim.
  • Iritasi pada vagina.
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman pada area vagina.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.

Baca Juga: Keputihan Berwarna Cokelat Apakah Tanda Infeksi Penyakit?

Jika Anda atau keluarga Anda mengalami gejala vaginitis, segera kunjungi Ciputra Medical Center untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dapatkan kemudahan untuk konsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihan Anda.  

Cek informasi lengkap mengenai layanan Ciputra Medical Center, mulai dari Medical Check Up (MCU) hingga masalah gizi anak, hanya di situs resmi atau kunjungi langsung fasilitas terdekat sekarang juga. 

Telah Direview oleh dr. Dorine Istimawarum

Source

  • Cleveland Clinic. Vaginitis. September 2026
  • Mayo Clinic. Vaginitis. September 2026
  • Medline Plus. Vaginitis. September 2026

Tim Konten Medis
Diperbarui pada 21 September 2026

Artikel Terkait

  • Vagina gatal saat hamil
    9 Penyebab Vagina Gatal saat Hamil dan Cara Mengatasi
  • pijat vagina
    Manfaat Pijat Vagina (Perineum) dan Cara Melakukannya
  • benjolan di bibir vagina
    Waspadai 11 Penyebab Benjolan di Bibir Vagina
  • Makanan penyebab keputihan
    3 Makanan Penyebab Keputihan Gatal Ini Perlu Dihindari
  • Keputihan putih susu
    Apa Penyebab Keputihan Warna Putih Susu pada Wanita?
Tagged under: Kesehatan Wanita

Artikel Terkait

  • Vagina gatal saat hamil
    9 Penyebab Vagina Gatal saat Hamil dan Cara Mengatasi
  • pijat vagina
    Manfaat Pijat Vagina (Perineum) dan Cara Melakukannya
  • benjolan di bibir vagina
    Waspadai 11 Penyebab Benjolan di Bibir Vagina
  • Makanan penyebab keputihan
    3 Makanan Penyebab Keputihan Gatal Ini Perlu Dihindari
  • Keputihan putih susu
    Apa Penyebab Keputihan Warna Putih Susu pada Wanita?

LOKASI PETA

ALAMAT

Lotte Shopping Avenue Lt. 5 Ciputra World 1 Jakarta.

Karir

Hasil MCU Online

AKSES

Lift lobby Mega Kuningan langsung ke lt 5. Di atas Food Avenue, dan eskalator dekat XL Center.

CONTACT US

* (021) 2988 8137

* +62 780 3321 2250 (Whatsapp Only)

Reservasi Pasien

FOLLOW US

  • Instagram
  • Facebook
© 2024 Ciputra Medical Center | All rights reserved.
TOP