Penyebab benjolan di belakang telinga bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti infeksi akibat flu, sakit tenggorokan, hingga cacar, bisa juga karena jerawat, limpoma, kista, mastoiditis, hingga kanker. Pengobatannya bergantung pada penyebab, namun umumnya dokter meresepkan antibiotik untuk mengatasi ngejala infeksi.

Benjolan di belakang telinga akibat infeksi umumnya disertai gejala seperti nyeri, kemerahan, rasa hangat saat disentuh, hingga demam atau telinga terasa penuh. Pada beberapa kondisi, benjolan juga bisa membesar dengan cepat dan terasa tidak nyaman saat menelan atau menggerakkan leher.
Untuk memastikan penyebabnya, diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan fisik dengan melihat ukuran, tekstur, dan tingkat nyeri pada benjolan. Jika diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan seperti tes darah, pencitraan, atau evaluasi guna menentukan jenis gangguan telinga dan penanganan yang paling tepat.
Penyebab Benjolan di Belakang Telinga
Ada benjolan di belakang telinga bisa terasa mengganggu, apalagi jika disertai nyeri atau perubahan ukuran. Kondisi ini dapat muncul karena berbagai penyebab, mulai dari masalah kulit ringan hingga infeksi serius, sehingga penting memahami kemungkinan penyebabnya agar tidak salah menilai keluhan.
1. Jerawat
Jerawat dapat muncul di area wajah hingga sekitar telinga, termasuk bagian belakang telinga yang dekat dengan kulit wajah. Kondisi ini terjadi ketika pori-pori tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati, lalu mengalami peradangan sehingga membentuk benjolan yang terkadang terasa nyeri saat disentuh.
Pada kondisi tertentu, jerawat yang meradang bisa berkembang menjadi kista jerawat yang ukurannya lebih besar dan terasa lebih sakit. Benjolan akibat jerawat umumnya akan terasa nyeri bila ditekan dan dapat membaik dengan perawatan kulit atau obat yang sesuai.
2. Kista
Kista adalah kantung berisi cairan yang dapat terbentuk di bawah permukaan kulit, termasuk di belakang telinga. Benjolan ini biasanya berbentuk bulat, permukaannya halus, dan bisa digerakkan saat disentuh tanpa menimbulkan rasa sakit berlebihan.
Beberapa kista memiliki titik hitam kecil di bagian tengah dan ukurannya bisa membesar secara perlahan. Meski umumnya tidak berbahaya, kista perlu diperiksa jika terasa nyeri, terinfeksi, atau terus membesar.
3. Lipoma
Lipoma merupakan benjolan jinak yang berasal dari jaringan lemak dan dapat muncul di berbagai bagian tubuh. Di belakang telinga, lipoma biasanya terasa lunak, tidak nyeri, dan tumbuh sangat perlahan.
Kondisi ini jarang menimbulkan keluhan serius dan sering kali hanya menjadi masalah kosmetik. Penanganan medis biasanya diperlukan jika ukurannya membesar atau menimbulkan rasa tidak nyaman.
4. Pembengkakan Kelenjar Getah Bening
Kelenjar getah bening di belakang telinga dapat membengkak saat tubuh sedang melawan infeksi. Pembengkakan ini bisa terasa lunak atau sedikit keras dan terkadang disertai nyeri, bahkan pada beberapa orang muncul keluhan benjolan di belakang telinga sakit jika ditelan.
Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi telinga, infeksi mulut, infeksi kulit kepala, hingga infeksi sistemik. Pembengkakan biasanya akan mengecil setelah penyebab utamanya teratasi.
5. Mastoiditis
Mastoiditis adalah infeksi bakteri pada tulang mastoid yang terletak di belakang telinga. Kondisi ini dapat menyebabkan pembengkakan yang nyeri, kemerahan, dan membuat telinga tampak terdorong ke depan.
Selain benjolan, mastoiditis sering disertai demam, nyeri telinga, keluar cairan dari telinga, hingga gangguan pendengaran. Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera karena tergolong infeksi serius.
6. Infeksi
Berbagai infeksi bakteri atau virus dapat memicu pembengkakan di area leher dan sekitar telinga. Infeksi seperti radang tenggorokan atau mononukleosis dapat menyebabkan kelenjar getah bening membesar dan terasa sebagai benjolan.
Selain itu, infeksi sistemik tertentu juga bisa menimbulkan pembengkakan di belakang telinga yang disertai gejala lain seperti demam dan rasa tidak enak badan.
7. Abses
Abses terbentuk akibat infeksi jaringan yang menyebabkan penumpukan nanah di satu area. Benjolan akibat abses biasanya terasa nyeri, hangat saat disentuh, dan dapat membesar dalam waktu relatif singkat.
Kondisi ini terjadi karena respons tubuh terhadap infeksi, di mana sel darah putih berkumpul dan membentuk nanah. Abses memerlukan penanganan medis agar infeksi tidak menyebar.
8. Otitis Media
Otitis media atau infeksi telinga tengah dapat menyebabkan penumpukan cairan dan pembengkakan di sekitar telinga. Pada beberapa kasus, kondisi ini dapat menimbulkan benjolan yang terlihat di belakang telinga.
Selain benjolan, penderita biasanya mengalami nyeri telinga, rasa penuh, hingga gangguan pendengaran. Penanganan yang tepat perlu untuk meredakan infeksi dan mencegah komplikasi.
9. Tumor
Tumor dapat bersifat jinak atau ganas dan muncul sebagai benjolan di area kepala serta leher. Meski jarang, kondisi ini dapat menjadi penyebab benjolan keras seperti tulang di belakang telinga yang tidak mudah Anda gerakkan. Beberapa jenis tumor yang dapat muncul di area sekitar telinga meliputi:
- Chondroma, yaitu tumor jinak dari tulang rawan yang biasanya tidak berbahaya dan jarang menimbulkan gejala.
- Osteoma mastoid, tumor jinak pada tulang mastoid yang tumbuh perlahan dan umumnya tidak nyeri.
- Kanker kelenjar ludah, yang dapat menimbulkan benjolan keras dan menetap disertai gangguan menelan.
- Kanker tulang dan kanker kulit, yang bisa menyebabkan benjolan keras dan nyeri seiring waktu.
- Limfoma, kanker sistem getah bening yang menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening secara menetap.
10. Sinusitis
Infeksi sinus dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar telinga. Benjolan biasanya terasa nyeri dan muncul gejala lain seperti hidung tersumbat, sakit kepala, dan rasa lelah.
Kondisi ini sering terjadi pada orang dewasa dan dapat membaik dengan sendirinya atau memerlukan pengobatan tergantung penyebab infeksinya.
11. Jenis Infeksi Lainnya
Selain sinusitis, beberapa infeksi lain juga dapat memicu benjolan di belakang telinga, antara lain:
- Infeksi kulit telinga, yang dapat terjadi akibat luka, tindik, atau gigitan serangga.
- Masalah gigi, seperti abses gigi atau infeksi gusi yang memicu pembengkakan kelenjar getah bening.
- Infeksi kulit kepala, termasuk infeksi bakteri, jamur, atau kondisi kulit tertentu.
- Infeksi kelenjar ludah, yang dapat menimbulkan nyeri dan pembengkakan di sekitar rahang dan telinga.
Setiap jenis infeksi memerlukan penanganan yang berbeda sesuai penyebabnya. Oleh karena itu, pemeriksaan medis sangat dianjurkan jika benjolan tidak kunjung membaik atau disertai keluhan lain.
Baca Juga: Telinga Keluar Cairan? Ini 7 Penyebab dan Pengobatannya
Kapan Harus ke Dokter?
Benjolan di belakang telinga tidak selalu berbahaya, karena banyak yang muncul akibat jerawat, kista, atau pembengkakan kelenjar getah bening sementara. Namun, penting untuk memahami cara membedakan benjolan berbahaya atau tidak, terutama jika benjolan mengalami perubahan ukuran, tekstur, atau muncul keluhan lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami kondisi berikut ini:
- Benjolan yang tumbuh dengan cepat
- Benjolan yang berpindah posisi atau terasa tidak stabil
- Benjolan berisi cairan atau nanah
- Benjolan terasa keras saat Anda sentuh
- Muncul gejala lain, seperti penurunan berat badan tanpa sebab, keringat malam berlebihan, demam, nyeri telinga, atau keluarnya cairan dari telinga
- Nyeri hebat yang muncul secara tiba-tiba di area benjolan
- Gangguan pendengaran, seperti telinga terasa penuh atau sulit mendengar
Pemeriksaan medis membantu memastikan penyebab benjolan dan menentukan apakah kondisi tersebut memerlukan penanganan khusus atau tidak. Dengan diagnosis yang tepat, risiko komplikasi dapat Anda cegah sejak dini.
Baca Juga: Apa Itu Penyakit Tiroid? Kenali Ciri-Ciri dan Jenisnya
Cara Mengatasi Benjolan di Belakang Telinga
Penanganan benjolan di belakang telinga sangat bergantung pada penyebab yang mendasarinya, sehingga tidak semua kondisi memerlukan terapi yang sama. Sebagian benjolan bersifat ringan dan dapat membaik dengan pengobatan sederhana, namun memahami cara mengobati benjolan di belakang telinga tetap penting agar tidak terjadi komplikasi bila penyebabnya lebih serius atau berisiko.
Bila benjolan karena infeksi atau gangguan jaringan, penanganan medis perlu untuk mencegah penyebaran infeksi dan keluhan lanjutan. Berikut obat untuk mengatasi benjolan di belakang telinga yang bisa Anda coba:
- benzoyl peroxide
- retinoids
- antibiotics
Selain pengobatan topikal, dokter dapat meresepkan antibiotik untuk menangani abses atau infeksi tertentu seperti mastoiditis dan otitis media. Pada beberapa kasus, tindakan medis berupa prosedur bedah ringan mungkin perlu Anda lakukan untuk mengeluarkan cairan atau mengangkat kista, abses, maupun lipoma agar benjolan tidak kambuh atau bertambah parah.
Baca Juga: Waspadai 11 Penyebab Benjolan di Bibir Vagina
Jika Anda memiliki benjolan di belakang telinga, segera kunjungi Ciputra Medical Center. Dapatkan kemudahan untuk konsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihan Anda.
Cek informasi lengkap mengenai layanan Ciputra Medical Center, mulai dari Medical Check Up (MCU) hingga masalah gizi anak, hanya di situs resmi atau kunjungi langsung fasilitas terdekat sekarang juga.
Telah Direview oleh dr. Dorine Istimawarum
Source
- Medical News Today. What causes lumps behind the ear?. Juli 2026
- Healthline. Causes of Lumps Behind the Ears (With Pictures). Juli 2026
- Hearing Partners. Lump Behind the Ear: Causes, Treatment and When to See a Doctor. Juli 2026





