Tourette syndrome adalah gangguan kesehatan pada sistem saraf yang menyebabkan gerakan atau suara secara tiba-tiba, cepat, dan tidak disengaja. Misalnya, berkedip, berdehem, menggerakkan anggota tubuh, atau berteriak berulang kali. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun kondisi ini bisa berkaitan dengan faktor genetik hingga kelainan pada struktur hingga zat kimia otak.

Penderita sindrom Tourette cenderung mengucapkan kata-kata yang tidak ingin mereka utarakan. Kondisi ini biasanya muncul pada masa kanak-kanak dan lebih banyak terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan.
Pengobatan Sindrom Tourette bisa dengan terapi hingga konsumsi obat-obatan medis. Selain itu, penderita juga memerlukan dukungan dari orang terdekat untuk mempercepat proses penyembuhan.
Apa Itu Tourette Syndrome?
Tourette syndrome adalah gangguan yang melibatkan gerakan berulang atau suara yang tidak disengaja. Gangguan ini tidak terkontrol oleh tubuh sehingga sering mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi ini adalah penyakit neurologis yang membutuhkan perawatan psikoanalisis.
Berkat kajiannya, Gilles de la Tourette semakin populer di seluruh dunia dan studi terkait sindrom ini berkembang cukup pesat. Oleh sebab itu, penamaan sindrom tourette sesuai dengan nama aslinya.
Menurut Asosiasi Sindrom Tourette di Amerika Serikat, 1 dari setiap 160 anak dapat mengalami gangguan ini. Bahkan, seiring berjalannya waktu, angka kasus sindrom tourette di seluruh dunia semakin bertambah setiap harinya.
Baca juga: Penyebab Pikun atau Demensia
Gejala Tourette Syndrome
Sindrom tourette menunjukkan gejala tic ringan atau parah. Tic adalah gerakan atau suara yang terjadi secara tiba-tiba dan berulang serta tidak mampu penderita kendalikan.
Gejala tic yang parah bisa mengganggu komunikasi, aktivitas sehari-hari, dan kualitas hidup. Adapun sejumlah gejala tic pada sindrom tourette, sebagai berikut:
1. Tics Motorik
Tics motorik adalah gejala yang muncul dengan melibatkan gerakan secara tiba-tiba. Gejalanya berupa:
- Menggerakkan lengan atau kepala
- Berkedip
- Mulut berkedut
- Mengangkat bahu
- Membuat mimik wajah
2. Tics Vokal
Tics vokal adalah gejala yang muncul dengan melibatkan suara secara tiba-tiba. Gejalanya meliputi:
- Gonggongan
- Dengkuran
- Berteriak
- Siulan
- Batuk
- Mengendus
Intensitas tics vokal cenderung bervariasi, tergantung dari gejala dan tingkat keparahan. Suara yang bisa halus hingga lebih parah.
Tics mampu berfluktuasi dari waktu-waktu karena adanya beberapa faktor yang memengaruhi intensitas gejala, seperti:
- Mengonsumsi kafein, seperti soda, minuman berenergi, atau kopi
- Sedang merasa bahagia
- Berada di tempat panas
- Kurang tidur
- Mengalami perasaan tertekan
Baca juga: Penyebab Tangan Kesemutan dan Cara Mengatasi
Penyebab Tourette Syndrome
Penyebab sindrom Tourette pada anak belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini bisa terjadi karena beberapa faktor, seperti:
1. Faktor Genetik
Para ahli berpendapat bahwa sindrom Tourette bisa terjadi karena adanya kombinasi faktor keturunan dan lingkungan. Kondisi ini merupakan kelainan autosomal dominan yang berarti gen untuk sindrom ini tidak berada pada kromosom seks (X atau Y).
Orang tua dengan sindrom tourette memiliki peluang 1 banding 2 untuk mewariskan gen tersebut kepada masing-masing anak.
2. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan menjadi salah satu penyebab dari sindrom Tourette. Kondisi ini biasanya terjadi selama periode prenatal, tahap prenatal, dan kehidupan pascanatal.
Faktor lingkungan yang memengaruhi bisa berupa paparan zat kimia berbahaya, seperti kebiasaan merokok, polusi udara, dan produk perawatan. Penelitian membuktikan bahwa berat badan lahir rendah dan penggunaan alat forcep saat melahirkan berkaitan dengan tingkat keparahan tic pada keturunannya. Anda bisa mencegah kondisi ini dengan pemeriksaan kehamilan secara teratur.
3. Ketidakseimbangan Neurokimia
Ketidakseimbangan neurokimia bisa terjadi akibat terlalu banyak atau sedikit zat kimia tertentu di dalam otak. Dalam istilah medis, zat ini dikenal dengan sebutan neurotransmitter.
Penelitian membuktikan bahwa neurotransmitter, seperti dopamin, norepinefrin, dan serotonin tidak dapat berkomunikasi dengan baik antar sel saraf pada penderita sindrom Tourette. Kondisi ini dapat dialami oleh sebagian orang dengan gen tertentu.
Baca juga: Perbedaan Autis dan Down Syndrome
Diagnosa Tourette Syndrome
Tidak ada tes khusus yang dapat mendiagnosis sindrom Tourette. Dokter biasanya mendiagnosis kondisi ini berdasarkan riwayat gangguan dan gejala yang dialami oleh penderita.
Namun, diagnosis sindrom Tourette bisa saja terabaikan karena gejalanya menyerupai masalah kesehatan lainnya. Sebagai contoh, kedipan mata yang dikaitkan dengan gangguan penglihatan, pilek, atau alergi.
Adapun sejumlah kriteria untuk mendiagnosis sindrom Tourette dapat berupa:
- Terdapat tic motorik atau vokal
- Tic terjadi beberapa kali dalam sehari, hampir setiap hari, sesekali, atau selama lebih dari 1 tahun
- Tic biasanya dimulai sebelum usia 18 tahun
- Penyebab tic bisa karena konsumsi obat-obatan tertentu, zat lain, atau kondisi medis lainnya
- Tic harus berubah seiring berjalannya waktu dalam lokasi, frekuensi, jenis, atau tingkat keparahannya
Dokter dapat melakukan diagnosis secara akurat dengan tes darah dan pencitraan, seperti MRI. Hal ini penting untuk menyingkirkan penyebab tic lainnya.
Pengobatan dan Manajemen Tourette Syndrome
Sindrom Tourette umumnya tidak dapat sembuh secara total, namun gejalanya bisa Anda kelola dengan terapi. Berikut ini adalah beberapa pengobatan untuk mengatasi sindrom Tourette:
1. Terapi Perilaku
Pengobatan lain untuk mengatasi sindrom Tourette adalah dengan terapi perilaku. Terapi ini dilakukan dengan memantau kondisi tic dengan pelatihan intervensi perilaku kognitif untuk tic.
Terapi perilaku cukup efektif untuk mengelola gejala sindrom Tourette yang terjadi. Misalnya, tegang otot, kesemutan, gerakan atau suara berulang.
2. Konsumsi Obat-obatan
Penderita sindrom Tourette dapat mengurangi gejalanya dengan mengonsumi obat-obatan medis secara teratur. Jenis obat ini dapat berupa Fluphenazine, haloperidol (Haldol), dan risperidone (Risperdal), untuk mengendalikan tic.
Namun, terdapat efek samping yang bisa terjadi pada penderita, seperti berat badan bertambah dan gerakan berulang yang tidak bisa Anda kontrol. Pada kasus tertentu, dokter juga merekomendasikan Tetrabenazine (Xenazine) untuk meredakan gejala depresi berat akibat sindrom Tourette.
3. Dukungan Psikososial
Dukungan dari keluarga dan komunitas sangat penting untuk dilakukan dalam mempercepat proses penyembuhan sindrom Tourette. Biasanya, penderita cenderung menutup diri karena khawatir menjadi bahan perbincangan dan mengganggu orang lain.
Tidak heran, banyak orang yang mengalami sindrom Tourette mengalami depresi dan penyalahgunaan zat berbahaya. Gangguan ini bisa membaik dengan sendirinya seiring bertambahnya usia.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala sindrom Tourette, seperti sering berkedip, mengeluarkan suara, dan sentakan pada kepala yang tidak bisa Anda kontrol, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.
Anda bisa mengunjungi Ciputra Medical Center untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Ciputra Medical Center menyediakan beragam layanan kesehatan mulai dari konsultasi dengan dokter umum, psikiater, hingga Medical Check Up (MCU).
Mari percayakan kesehatan Anda dan keluarga Anda di Ciputra Medical Center!
Telah direview oleh dr.Ditta
Source:
- Mayo Clinic. Tourette Syndrome. Februari 2026.
- National Library of Medicine. Gilles de la Tourette: The History of The Man and His Illness: A Medical Historical Study. Februari 2026.
- Very Well Health. Vocal Tics. Februari 2026.




